loss aversion
sains di balik alasan rasa sakit kehilangan lebih besar dari rasa senang mendapat
Coba teman-teman ingat-ingat lagi. Pernahkah kita menemukan uang seratus ribu rupiah yang terselip di kantong jaket lama? Rasanya pasti menyenangkan. Senyum kita mungkin mengembang selama beberapa menit. Tapi, coba bandingkan dengan skenario ini. Pernahkah kita kehilangan uang seratus ribu rupiah karena jatuh dari dompet?
Rasa kesalnya, rasa menggerutunya, dan rasa menyalahkan diri sendirinya pasti bertahan jauh lebih lama. Mungkin sampai malam hari saat kita mau tidur, kita masih kepikiran, "Coba tadi dompetnya saya tutup rapat."
Secara nominal, nilainya sama persis. Sama-sama seratus ribu. Logika matematika dasar mengatakan bahwa intensitas rasa senang karena mendapat, seharusnya seimbang dengan rasa sedih karena kehilangan. Namun, realitas emosional kita mengatakan hal yang sangat berbeda. Matematika di dalam kepala kita ternyata curang. Ada semacam ketidakadilan dalam cara kita memproses emosi. Mengapa rasa sakit karena kehilangan selalu terasa lebih menyengat daripada kebahagiaan saat mendapatkan sesuatu?
Keanehan ini sebenarnya terjadi di hampir setiap sudut kehidupan kita, bukan cuma soal uang.
Bayangkan kita sedang mendapat pujian dari sepuluh rekan kerja tentang presentasi yang luar biasa. Hati kita berbunga-bunga. Lalu, satu orang rekan kerja memberikan satu kritik kecil yang sebenarnya membangun. Tebak apa yang terjadi? Begitu kita pulang ke rumah, otak kita akan membuang sepuluh pujian tadi ke tempat sampah, dan memutar ulang satu kritik itu ribuan kali di kepala kita.
Kita jadi ragu untuk mencoba hal baru. Kita bertahan di pekerjaan yang membuat stres, hanya karena takut kehilangan gaji yang stabil, meskipun ada peluang karier yang lebih menjanjikan di luar sana. Kita menumpuk barang-barang tidak berguna di gudang rumah, sekadar karena kita tidak rela "kehilangan" barang tersebut jika dibuang atau didonasikan.
Otak kita seolah-olah dipasangi sebuah alarm kebakaran yang terlalu sensitif. Alarm ini berteriak panik setiap kali ada potensi kita kehilangan sesuatu. Pertanyaannya, siapa yang memasang alarm ini? Dan kenapa tombol snooze-nya begitu sulit ditemukan?
Untuk mencari tahu siapa pelakunya, saya mengajak teman-teman untuk mundur sejenak. Sangat jauh ke belakang. Tepatnya ke padang sabana Afrika ratusan ribu tahun yang lalu, tempat nenek moyang kita memulai segalanya.
Di masa itu, kehidupan bukanlah tentang siapa yang punya gadget paling baru atau investasi saham paling untung. Kehidupan adalah tentang survival. Bertahan hidup murni dari hari ke hari. Mari kita bayangkan kita sedang hidup di era tersebut.
Suatu hari, kita melewatkan kesempatan untuk memetik buah beri yang manis. Apa akibatnya? Kita mungkin sedikit lapar, tapi kita masih bisa mencari buah yang sama besok. Namun, bayangkan jika kita mengabaikan suara gemerisik daun di semak-semak yang ternyata adalah seekor harimau purba bersembunyi. Apa akibatnya? Kita mati. Selesai. Game over.
Dalam permainan evolusi, mengabaikan potensi keuntungan (buah beri) hanya berakibat kekecewaan kecil. Namun, mengabaikan ancaman dan kehilangan (nyawa) berakibat fatal. Otak manusia purba yang bertahan hidup dan mewariskan DNA-nya kepada kita hari ini adalah otak mereka yang sangat pesimis, hiper-waspada, dan sangat membenci kehilangan.
Tapi, masalahnya, kita sekarang tidak lagi dikejar harimau purba. Kita duduk di kedai kopi sambil melihat layar ponsel. Lalu, kenapa otak kita bereaksi terhadap diskon e-commerce yang kedaluwarsa, seolah-olah nyawa kita sedang terancam?
Inilah saatnya sains modern menjawab apa yang diwariskan oleh sejarah. Para ilmuwan dan psikolog menyebut fenomena ini dengan nama loss aversion atau penghindaran kerugian.
Konsep ini dipopulerkan oleh dua raksasa dalam dunia psikologi, Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Melalui eksperimen yang panjang, mereka menemukan sebuah rasio magis. Secara psikologis, rasa sakit akibat kehilangan terasa dua kali lipat lebih kuat dibandingkan rasa senang karena mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama.
Ini adalah hard science, teman-teman. Jika kita membedah otak kita di dalam mesin fMRI (pemindai otak), kita akan melihat sebuah struktur kecil berbentuk kacang almond yang bernama amygdala. Amygdala adalah pusat rasa takut dan emosi kita. Ketika kita dihadapkan pada situasi di mana kita bisa kehilangan sesuatu—entah itu uang, status, atau barang—amygdala kita menyala terang benderang. Otak kita melepaskan hormon stres dengan cepat.
Otak modern kita menggunakan perangkat lunak kuno. Ia merespons penurunan harga saham atau kehilangan kacamata hitam dengan kepanikan yang sama seperti saat nenek moyang kita melihat predator. Matematika emosional kita bukannya rusak. Ia sebenarnya bekerja dengan sangat sempurna, sesuai dengan desain aslinya untuk menjaga kita tetap hidup. Ia hanya saja sudah tertinggal zaman.
Memahami loss aversion ibarat menyalakan lampu di ruangan yang gelap. Tiba-tiba, monster menyeramkan di sudut ruangan ternyata cuma tumpukan baju kotor.
Setelah kita paham mengapa kita bereaksi berlebihan terhadap kehilangan, kita bisa mulai lebih berempati pada diri kita sendiri. Wajar jika kita merasa kesal berhari-hari karena kehilangan uang seratus ribu. Wajar jika kita cemas berlebihan saat mau memulai bisnis. Itu bukan berarti kita lemah atau penakut. Itu hanya otak purba kita yang sedang melakukan tugasnya: mencoba memeluk kita dan berkata, "Hati-hati, saya tidak mau kamu terluka."
Namun, kini kita punya kendali. Kita hidup di dunia modern, di mana tidak semua kehilangan berujung pada kematian. Ketika kita dihadapkan pada sebuah keputusan berat—mulai dari resign dari pekerjaan, pindah kota, atau merelakan hubungan yang toksik—tariklah napas panjang.
Tanyakan pada diri kita bersama-sama: Apakah saya menolak ini karena langkahnya memang salah, atau karena otak purba saya sedang ketakutan kehilangan kenyamanan? Terkadang, untuk mendapatkan hal yang luar biasa di depan sana, kita harus berani menahan sedikit rasa perih karena melepaskan apa yang ada di genggaman. Otak kita mungkin tidak menyukainya, tapi percayalah, kita akan baik-baik saja.